...SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN...
...TETAP WASPADA TINGKATKAN KEAMANAN LINGKUNGAN SELAMA LIBUR LEBARAN...

9.1.08

Mari Berhijrah: Mengubah Sikap Hidup

Mengubah Sikap Hidup 

Oleh Eko Jalu Santoso

Ketika berbicara dihadapan para mahasiswa sebuah lembaga pendidikan di Yogyakarta beberapa waktu lalu, saya memulai pembicaraan dengan menanyakan kepada mereka, "Siapa orang yang paling Anda kagumi dalam hidup ini?". Jawaban yang muncul sangat beragam, dari mulai nama-nama menteri, politisi, selebriti sampai para kyai mereka sampaikan.

Kemudian saya melanjutkan dengan pertanyaan, "Apa yang membuat Anda mengaguminya?". "Apa saja yang membuatnya berbeda dibandingkan dengan orang lain?". Saya memberikan waktu sejenak untuk berpikir dan kemudian menuliskan jawaban mereka masing-masing di atas sehelai kertas. Tentu saja ada banyak faktor yang disebutkan dalam jawaban mereka. Namun ketika mencermati lebih jauh ada salah satu faktor yang paling menonjol yang membuat mereka mengagumi orang-orang tertentu, adalah karena sikapnya. Ya, salah satu faktor yang sangat mencolok dari orang-orang sukses adalah bagaimana mereka bersikap terhadap berbagai persoalan dalam kehidupan ini.

Sahabat, sikap adalah hal kecil yang dapat membuat perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Sikap adalah hal yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan hidup seseorang. Sikap ini sesungguhnya berasal dari dalam diri kita sendiri, berasal dari hati dan pikiran dalam diri kita sendiri, bukan dari luar diri kita. Banyak orang kurang menyadari hal ini, tidak mengetahui, pura-pura tidak tahu, atau bahkan tidak mau tahu bahwa mereka memiliki kemampuan mengelola hati dan pikirannya. Kemampuan seseorang dalam mengelola hati dan pikirannya, kemampuan memimpin hati dan pikirannya akan sangat menentukan sikapnya dalam kehidupan ini. 

Salah seorang sahabat saya yang bekerja sebagai HRD mengatakan, salah satu prinsip terpenting dalam managemen SDM adalah mengembangkan sikap seseorang agar menjadi lebih baik. Menurut teman saya, kalau sikapnya baik, ia bisa dilatih agar mahir dalam melakukan pekerjaannya. Sebaliknya, jika ia memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang luas namun sikapnya jelek, ia tidak akan pernah mampu berprestasi optimal, terutama jika bekerja dalam sebuah tim. 

Sesuatu yang terjadi dalam hidup kita sebagian besar dipengaruhi oleh apa yang dominan menguasai hati dan pikiran kita. Ketika hati dan pikiran didominasi oleh sesuatu hal yang kita inginkan, kita akan semakin fokus pada hal tersebut. Kekuatan pikiran ini melahirkan energi dan motivasi yang kuat dari dalam diri kita dan mengarahkan kita menjadi seperti apa yang kita pikirkan. Kalau kita melihat dari kacamata psikoanalisanya Sigmund Freud, adanya dorongan atau energi dari arah dalam diri ini tercipta karena adanya "unconcius mind" atau pikiran bawah sadar. Kekuatan pikiran bawah sadar inilah yang dapat mendorong energi dalam diri kita untuk mewujudkan apa yang kita pikirkan.

Sebaliknya kalau hati dan pikiran kita dikuasai oleh sesuatu yang dapat melemahkan kita, maka sikap kita akan menjadi lemah dan itulah yang akan kita dapatkan. Kalau pikiran kita sudah dikendalikan oleh berbagai hal negatif tentang kegagalan diri kita, maka sikap kita dalam mengahadapi kegagalan akan mudah menyerah dan kegagalan itulah yang akhirnya akan kita dapatkan. 

Bagaimana Mengubah Sikap Menjadi Seorang Pemenang ? 

Dalam buku saya "The Art of Life Revolution" yang diterbitkan Elex Media Komputindo, untukmengubah sikap hidup dapat dimulai dengan mengubah keyakinan dalam diri kita. Setidaknya ada empat tahapan dalam mengubah sikap hidup kita hingga menjadi seorang pemenang. Namun intinya mulailah menanamkan keyakinan dari dalam hati bahwa keberhasilan, kesuksesan, kegelisahan, semuanya disebabkan faktor dari dalam diri kita sendiri. Sesungguhnya yang menciptakan itu semua adalah hati dan pikiran kita sendiri. Berbagai faktor luar lainnya tidaklah mencerminkan diri pribadi kita. Namun hati dan pikiran yang ada dalam diri itulah yang mengidentifikasikan diri kita. Itulah mengapa memiliki sikap yang senang mencari-cari alas an, senang menyalahkan berbagai factor luar dalam kegagalan yang kita dapatkan adalah sikap yang kurang bijaksana.

Memiliki keyakinan bahwa sukses dimulai dari hati dan pikiran dalam diri kita sendiri, dapat mengarahkan hati dan pikiran kita pada hal-hal positif dan indah tentang kesuksesan. Hal ini melahirklan sikap yang optimis akan kesuksesan. Hati dan pikiran kita menjadi lebih terbuka tentang hal-hal yang positif dan indah mengenai keberhasilan, sehingga itulah yang akan kita dapatkan. Semakin kuat keyakinan kita tentang kesuksesan, itulah yang akan semakin mendominasi pikiran kita sehingga dapat mengubah sikap hidup kita. 

Perubahan sikap inilah yang dapat mengubah perilaku hidup kita. Ketika perilaku hidup kita berubah akan mendorong perubahan kinerja dan pada akhirnya dapat merubah hidup kita benar-benar menjadi seorang pemenang. Semakin kuat memikirkan bahwa kita akan berhasil, hampir pasti kita akan berhasil. Karena semakin kuat memikirkannya, semakain keras dorongan dari dalam diri untuk mengusahakannya dan semakin sulit kita menyerah. Kedisiplinan inilah yang mendorong keberhasilan seseorang.

Sumber: Mengubah Sikap Hidup Oleh Eko Jalu Santoso, Penulis Buku "The
Art of Life Revolution"

"Selamat Tahun Baru 1429 Hijriah. Mari Berhijrah Ke Arah Yang Lebih Baik "

 

KN3/6

Tanam Pohon Tidak Mengurangi Pemanasan Global??

Yang bener? wah gimana nih? apa pengertian kita diarahkan untuk salah? hati-hati menanggapi berita? siapa tahu ini cuma akal-akalan pembalak liar? yang penting RT 10 akan banyak panen mangga harum manis 3 tahun lagi...dan singkong tentunya...he he he
 
Disadur dari Media Indonesia
 

JAKARTA--MEDIA: Apa yang dulu dipandang sebagai solusi buat masalah emisi gas CO2, yakni kemampuan pohon menyerap karbondioksida hasil aktifitas manusia (CO2 antropogenik), kini mulai diragukan 'keampuhannya' karena fenomena pemanasan global tetap saja terjadi.

Sebuah penelitian selama 20 tahun yang menganalisa 30 titik di Kutup Utara mendapati bahwa kemampuan pohon menyerap CO2 terus menurun, padahal saat ini berkembang kampanye yang menyebutkan bahwa dengan menanam banyak pohon maka laju perubahan iklim bisa ditekan.

Gas karbondioksida yang ditimbulkan oleh aktifitas manusia biasanya diserap oleh pohon dan laut, untuk kemudian dilepaskan pada masa yang akan datang. Tapi ini bukanlah akhir dari siklus karbon.

Seperti dikutip dari laman jejaring warta lingkungan hidup www.enn.com, Senin, pohon melepaskan simpanan CO2-nya saat ia membusuk atau terurai. Hal ini kemudian memunculkan siklus karbon.

Temperatur yang semakin tinggi akibat perubahan iklim tidak hanya meningkatkan laju pertumbuhan pohon dan tanaman di seluruh dunia, tapi juga memicu emisi CO2 yang berlebihan.

Pohon kemudian berubah peran dari penyerap CO2 menjadi produsen gas karbon lewat proses penguraian yang lazim terjadi pada musim-musim akhir pertumbuhannya.

Bukti terbaru yang dikumpulkan dari seluruh dunia menunjukkan bahwa awal musim dingin terjadi mundur dari biasanya, sementara musim panas datang lebih awal.

Di Bumi belahan Utara, temperatur pada musim semi dan musim gugur naik sekitar 1,1 dan 0,8 derajat Celsius dalam kurun waktu sekitar 2 dekade terakhir.

Ini artinya musim pertumbuhan pohon semakin lama, dan para ahli menduga hal tersebut sebagai hal yang bagus buat menekan laju perubahan iklim.

Bahkan pertambahan pohon di muka Bumi bisa terlihat dari luar angkasa, citra satelit menunjukkan bahwa luasan hijau semakin besar di permukaan Bumi dari masa sebelumnya.

Namun demikian, data terbaru menunjukkan bahwa pola berpikir seperti terlalu menyederhanakan masalah.

Sekitar 30 titik pengamatan yang tersebar di Siberia, Alaska, Kanada, dan Eropa diteliti kadar CO2 di lapisan atmosfernya. Yang dikaji bukan cuma CO2 saat proses fotosintesis tapi juga CO2 yang dilepaskan pohon dan mikroba selama proses respirasi.

Tim peneliti pun memusatkan penelitiannya pada musim gugur, masa ketika hutan berubah peran dari penyimpan karbon menjadi produsen karbon.

Dan ternyata, periode mengurainya pohon datang lebih awal dalam satu tahun, di beberapa tempat menunjukkan awal periode terjadi beberapa hari lebih cepat sementara di tempat lain beberapa pekan lebih cepat dari biasa.

Temuan ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa jumlah CO2 di atmosfer bertambah lebih cepat dari perkiraan awal - dengan kata lain laju perubahan iklim akan terus meningkat pada masa mendatang.

Menurut Panel Antarpememerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), manusia hanya punya waktu 8 tahun untuk mencegah datangnya efek terburuk dari perubahan iklim.

Namun waktu dan bukti-bukti ilmiah haruslah dijadikan umat manusia sebagai panduan untuk bertindak, dan tidak ada kata lain solusinya adalah menurunkan emisi gas rumah kaca, menurunkan emisi CO2.

KN5.4

8.1.08

Pohon Yang Kehilangan Rohnya

Berikut ini cerita ttg kebiasaan penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan. Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon. Untuk apa ? Kebisaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.
Inilah yang mereka lalukan, jadi tujuannya supaya pohon itu mati.Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada dibawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga akan mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.
Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya. Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati.
Nah sekarang, apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk primitif di kepulauan Solomon ini ? O, sangat berharga sekali! Yang jelas, ingatlah baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.
Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda ?
Ayo cepat !
Dasar lelet ?!?
Bego banget sih.
Hitungan mudah begitu aja nggak bisa dikerjakan?
Ayo, jangan main-main disini.
Berisik !
Bising !?
Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati?
Cuih! Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu tahu nggak!
Iii!Bodoh banget jadi laki nggak bisa apa-apa !
Aduh. Perempuan kampungan banget sih !?
Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya?
E, tolol. Soal mudah begitu aja nggak bisa. Kapan kamu mulai akan jadi pinter?
Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesal, ?
E tahu ngak ? Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku kagak bakal
nyesel. Ada banyak yang bisa gantiin kamu?
Sial ! Kerja gini nggak becus ? Ngapain gue gaji elu?
Ingatlah ! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan-lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.
Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan. Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan ? Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter. Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya hati mereka begitu jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak !
Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan dendam,benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.
Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan. Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin segera membunuh roh orang lain ataupun roh hubungan Anda, selalulah berteriak.
Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan semakin dijauhi. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.
Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai, tanpa harus berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita.
CH